Saya berharap agar tak cuma ada saya atau I atau aku atau satu bentuk panggilan tunggal
Saya ingin jadi kita. Bukan sekedar hal yang samar seperti ucapan atau ciuman selamat malam yang biasa saya dan kamu kirimkan lewat sms dan telepon. Saya ingin menjadi nyata.
Bintang
Saya masih disini mencoba menghilangkan luka yang tak tahu kapan akan sembuh
Saya tak tahan jika digoda atau saat kamu tersenyum manis pada saya, ayolah Bintang, saya hanya manusia biasa.
Perempuan serba ajaib yang sedang menghapus perih yang kamu nggak akan pernah tahu. Perempuan yang berteriak dalam hati agar tak ada seorangpun yang bisa menilai betapa rapuhnya perempuan itu.
Bintang, saya sayang sama kamu, tapi ijinkan saya untuk sendiri kalau kamu hanya sekedar numpang lewat dalam hidup saya. Saya bukan "keset" bukan "selimut" ataupun "karpet". Yang saya inginkan adalah saya bisa menjadi rumah tempat seseorang pulang. Yang saya impikan adalah menjadi pintu yang terbuka agar kamu bisa masuk dan bukan hanya singgah melainkan tinggal untuk selamanya.
See, saya akhirnya menjadi monster yang saya benci. I won't begging for love. Tidak sama sekali tidak. Saya akan angkat kaki kalau saya kembali menjadi perempuan pemohon. No way Jose..Please leave me alone. Karena saya serius Bintang. Saya benci main-main karena saya bukan anak-anak lagi. Ijinkan saya bernafas, Bintang. Karena bersamamu atau bersama saya, kita akan jadi sesak nafas. Kamu tahu? Saya lelah Bintang, saya hanya ingin diam dan menanti sesuatu yang saya nggak tahu. Biarkan saya sendiri..
Tampilkan postingan dengan label Sekilas Minis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekilas Minis. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Oktober 2011
Sabtu, 03 September 2011
Hidupku Bersama Tiga Malaikat Kecil
Bi....bibi.... Itu adalah panggilan buat aku dari mereka, duo kembar yang super imut. Semua berawal dari ibu mereka yang rajin banget memanggilku bibi. Jangan lupakan pula si kecil Ranu yang lahir 11 Januari. Sehari setelah aku patah hati..hahaha (gak nyambung blas).
Alhasil segala kata pun ditiru oleh mereka..Naima dan Najma. Itu nama mereka. Buncit perutnya namun senyumnya bak malaikat. Apalagi kalau menari, lenggak
lenggok dengan gayanya yang bikin gemes.
Hari ini, entah yang kesekian kali, mereka selalu memberiku harapan, inspirasi ketika hari terasa begitu berat. Bayangkan, setiap hari pasti senang kalau ada
yang menyambut kita dengan satu kata, haloo...kata si kakak Naima atau adik Najma dengan bibir mereka yang menyunyu saat motorku memasuki garasi. Gemes rasanya melihat tingkah polah mereka. walaupun kami sekeluarga kerap juga dibuat senewen jika mereka membuat ulah entah itu rewel ataupun membuat rumah jadi berantakan.
Kalau sedang riang, mereka ibarat matahari yang terbit dari timur, menyanyi, menari bahkan menggunakan tiang tempat tidur sebagai microphone. Tapi kalau sedang ngambek, dunia pun jadi mendung. Suatu hari, kami sekeluarga dibuat panik tepat pukul 00.00 WIB. Dari kamar atas, aku mendengar ponakanku, Naima, menangis kesakitan. Segera saja kuperiksa apa yang terjadi. Dan ternyata, si kakak Naima jatuh dari tempat tidur dengan dahi benjol menyeramkan.
Panik super duperlah. Bahkan sempat mikir, "Mungkin gak ya tuh benjolan bakal meletus?" Astagfir...ngeri banget pokoknya. Maka bergegaslah aku pergi ke apotik terdekat dan membeli obat trombopop. Sungguh takjub karena ini pengalaman pertama pergi dinihari untuk beli obat.
Hari lainnya, mereka bergaya heboh. Kesibukanku di kala luang adalah memandikan tiga ponakan super lucu, Naima, Ranu dan Najma. Tak ada yang lebih menarik
selain menyaksikan tingkah polah mereka. Menarik dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku yang biasanya cuek, kini dengan senang hati membuka diri untuk kehadiran mereka. Terima kasih Ya Allah, atas kehadiran mereka dan keluargaku. Semoga aku bisa lebih belajar menghargai keberadaan mereka.
Satu hal yang kusukai ketika sang adik Najma memeluk dan menepuk-nepukkan tangannya ke punggung. Baru berusia satu setengah tahun saja sudah bisa belajar menenangkan orang dewasa. Lucunya, bahagia sekaligus terharu. Mereka memang bukan anak-anakku. Tapi mereka berarti bagiku. Kuharap aku bisa menjadi bibi dan suatu saat menjadi ibu yang baik. Mereka membantuku melihat dunia lebih baik. Membantuku bersikap bijak dan menenangkanku kalau badai tiba. Tak ada yang lebih berharga selain tawa ceria anak-anak dan yang berarti dalam hidup kita. Kuharap aku pun berarti untuk mereka. ^_^
Jumat, 19 Agustus 2011
Looking for Happiness
Suatu hari tiga anak berkumpul untuk memaknai arti kebahagiaan. Sebut saja mereka, si anak gembala, si anak bijak dan bocah pesimis.
"Dimana bahagia itu?" tanya si anak gembala
"Diantara gerombolan domba yang tengah bermain di padang rumput," jawab si anak bijak.
"Ah bohong, jangan percaya. Tak ada yang namanya bahagia. Itu hanya ilusi seseorang yang haus drama," jawab bocah pesimis.
"Dimana gembira itu jika aku telah berhasil menguasai gerombolan domba di padang rumput?" si anak gembala bertanya.
"Maka sang gembira ada di situ," ujar si anak bijak menunjuk dada si anak gembala.
"Ya ampun, omong kosong apa itu?" timpal si bocah pesimis.
Si anak gembala tak menyerah namun baru saja ia akan mengajukan satu pertanyaan lagi, si anak bijak tersenyum sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya. Mengisyaratkan anak gembala untuk hening.
Sementara itu, si bocah pesimis dengan gayanya yang sok berkata penuh kemenangan, "Hahahaha...tak ada yang namanya bahagia. Aku tahu itu karena kamu tak bisa menjawabnya."
Si anak bijak pun dengan tenang balik bertanya, "Nah..rasa puas yang kau rasakan saat menang itu apa? Bahagia bukan? Gembira bukan?"
Bocah pesimis langsung menghentikan tawanya dan tertunduk malu. Sementara itu, si anak bijak meneruskan perkataan sambil menatap dua sahabatnya yang berbeda pendirian dengannya itu.
"Bahagia ada dimana saja ketika kamu meyakini hal itu ada bahkan di alam bawah sadarmu sekalipun. Tak perlu mencari atau mempertanyakan bahkan mengingkarinya," ujar si anak bijak. "Sama seperti bergantinya hari, matahari terbit, air, udara, langit dan semua hal yang datang silih berganti. Bahagia itu ada tepat di hadapanmu. Dan akan selalu setia di sana bahkan ketika kamu tak melihatnya."
Si anak gembala yang selalu khawatir dan penuh tanya kemudian berkata, "Tapi apa gunanya jika aku tak bisa merasakan ataupun menjangkaunya?"
Si anak bijak menjawab, "Maka heninglah, diamlah, pejamkan mata dan jujurlah pada hatimu, maka kamu akan menemukannya. Yang harus kau lakukan ketika semua tak berjalan lancar adalah menunggu dan kelak kamu akan temukan jawabannya."
"Dimana bahagia itu?" tanya si anak gembala
"Diantara gerombolan domba yang tengah bermain di padang rumput," jawab si anak bijak.
"Ah bohong, jangan percaya. Tak ada yang namanya bahagia. Itu hanya ilusi seseorang yang haus drama," jawab bocah pesimis.
"Dimana gembira itu jika aku telah berhasil menguasai gerombolan domba di padang rumput?" si anak gembala bertanya.
"Maka sang gembira ada di situ," ujar si anak bijak menunjuk dada si anak gembala.
"Ya ampun, omong kosong apa itu?" timpal si bocah pesimis.
Si anak gembala tak menyerah namun baru saja ia akan mengajukan satu pertanyaan lagi, si anak bijak tersenyum sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya. Mengisyaratkan anak gembala untuk hening.
Sementara itu, si bocah pesimis dengan gayanya yang sok berkata penuh kemenangan, "Hahahaha...tak ada yang namanya bahagia. Aku tahu itu karena kamu tak bisa menjawabnya."
Si anak bijak pun dengan tenang balik bertanya, "Nah..rasa puas yang kau rasakan saat menang itu apa? Bahagia bukan? Gembira bukan?"
Bocah pesimis langsung menghentikan tawanya dan tertunduk malu. Sementara itu, si anak bijak meneruskan perkataan sambil menatap dua sahabatnya yang berbeda pendirian dengannya itu.
"Bahagia ada dimana saja ketika kamu meyakini hal itu ada bahkan di alam bawah sadarmu sekalipun. Tak perlu mencari atau mempertanyakan bahkan mengingkarinya," ujar si anak bijak. "Sama seperti bergantinya hari, matahari terbit, air, udara, langit dan semua hal yang datang silih berganti. Bahagia itu ada tepat di hadapanmu. Dan akan selalu setia di sana bahkan ketika kamu tak melihatnya."
Si anak gembala yang selalu khawatir dan penuh tanya kemudian berkata, "Tapi apa gunanya jika aku tak bisa merasakan ataupun menjangkaunya?"
Si anak bijak menjawab, "Maka heninglah, diamlah, pejamkan mata dan jujurlah pada hatimu, maka kamu akan menemukannya. Yang harus kau lakukan ketika semua tak berjalan lancar adalah menunggu dan kelak kamu akan temukan jawabannya."
Langganan:
Postingan (Atom)



