Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2012

Ketika kelam hadir diantara malam...


Demi Tuhan, dia masih ada disana, mengawasiku dengan senyumnya yang sinis..Berdiri diantara kepulan asap dunia dan hanya diam, menunggu untuk hadir di waktu yang tepat..Tentu saja "tepat" menurut dia...

Hanya butuh satu peristiwa atau bahkan satu rasa saja, maka kelam akan hadir tanpa malu-malu...dia akan menyingkirkan sosok terang dan menggantinya dengan topeng kemarahan dan kekalutan..

Kelam seperti bom waktu, dan  ketika dia hadir maka tak ada ampun, tak ada yang namanya kesempatan kedua...tak ada pelukan atau bahkan senyuman..yang ada hanya tawa...sinis penuh dendam

Entah sejak kapan dia hadir...yang jelas aku tak bisa menutup mata atau bersikap masa bodoh...dia hadir karena luka..dan akan selalu membawa luka...

Di awal perjumpaan kami, kelam menyapaku dan bicara soal hidup..memintaku memahami bahwa dia ada agar aku waspada...bahwa tak perlu merasa bersalah menyimpan luka selama tidak menyakiti siapapun..bahwa hidup kadang tidak sekedar mengalir, hidup berarti berjuang..hidup berarti bukan hanya tertawa bahagia tapi juga menangis dalam luka...

Namun akhirnya hari itu tiba..sama seperti kehadirannya yang tiba-tiba, perubahan perangainya pun tak terduga... dia bukan lagi sosok yang menjaga..dia adalah monster atas namaku..ketika dia muncul maka yang bisa aku lakukan hanya bersembunyi dari dunia...Menolak siapapun dan kemudian aku sendirian sampai suatu hari seseorang datang..

pria ransel dan kamera..yang secara tak sengaja membantuku menyembuhkan luka..tapi benarkah luka itu sudah sembuh??atau akankah bekasnya akan terkikis seiring berjalannya waktu???

Pria dengan mata penuh senyuman dan tak pernah menghakimi itu membuatku khawatir...perjalanan kami masih panjang..dan aku yang biasanya sendiri kini menemukan kebersamaan..Tapi apakah itu abadi???sebaik-baiknya seseorang pasti dia punya dunianya sendiri..dan sekali lagi..aku hanya orang asing...ada keinginan untuk melepas agar aku tak perlu menggenggamnya terlalu erat...karena jika begitu, dia sendiri yang akan pergi dan akhirnya kelam akan kembali..hadir membawa kebencian..semoga aku tak perlu lagi bertemu kelam...Ketika dia ada ..aku lelah..aku lelah bersembunyi...

Semoga......

Selasa, 06 Desember 2011

Percakapan dari Hati




Dalam hidup semua orang pasti pernah merasa lelah, ingin berhenti tapi tak bisa, ingin berusaha tapi beban begitu menghimpit. Kadang hanya lari dan menyingkir yang jadi pilihan. Hari ini saya mengalami sesuatu yang membuat saya ingin berhenti. Saya berharap bisa terdiam untuk selamanya bersama dengan waktu. Saya lelah. Lelah menjadi benar, lelah karena terus dinilai (Maaf). Saya sedang lelah saja. Tanpa alasan pokoknya.

Tujuan saya akhirnya jadi tak jelas, sambil mengelilingi kota dan menyaksikan ketika semua orang tengah menikmati indahnya malam. Saya memulai dialog saya dengan seorang sahabat. Bisa dibilang dia adalah bagian dari hidup saya. Sosok yang membuat saya terinspirasi untuk menjadi lebih baik. Sebut saja namanya Randu.

Ketika saya merasa putus asa, Randu mengingatkan saya akan sebuah pepatah, "Jika lelah maka beristirahatlah, tapi jangan pernah berhenti hidup". Saya jadi terharu dengan kata-katanya. Akhirnya saya menceritakan keluh kesah saya padanya. Seperti biasa, dia dengan sebatang rokok mengepul di tangannya dan kacamata tebal yang menghias wajahnya terlihat tenang ketika menyimak ocehan saya yang kalau kata W.S Rendra, "Bagian dari mengeluh dan mengaduh".

Usai mendengar cerita saya, Randu langsung menggelengkan kepala dan bertanya, "Apa sudah dipikir masak-masak? Apa kamu yakin dengan gagasan itu."

Dengan mantap saya berkata, "Ini sudah jadi niat saya sejak kecil. Seandainya dulu saya gak sebegitu takutnya untuk mengakhiri hidup saya, mungkin saya gak perlu ngalami masalah yang sebegitu banyaknya sampai rasanya membuat kepala saya terasa pecah seperti saat ini."

Melihat saya yang begitu berapi-api dan emosional, sahabat saya itu menepuk pundak saya sambil menggeleng2xkan kepalanya. "Kenapa kamu bisa begini nduk? Apa segitu beratnya masalah kamu sampai harus menyerah?"

Saya lalu dengan mata berkaca-kaca berkata, "Semua orang kadang menilai saya buruk dan saya juga kadang membuat salah baik sengaja maupun tak disengaja. Tapi kamu tahu nggak, kalau sebenarnya yang membuat saya terluka itu bukan karena penilaian buruk orang lain yang kadang gak 100% benar. Tapi karena saya sebenarnya tak bisa memaafkan diri saya ketika saya membuat kesalahan dan menyebabkan orang lain marah pada saya."

Dengan nafas sesak saya melanjutkan, "Saya merasa dilema antara ingin membuat kesalahan untuk tahu apakah saya masih bisa diterima meski punya kelemahan dan keinginan untuk menjadi benar agar orang menganggap saya sempurna."

Randu pun berkata, "Apakah sepenting itu? Apakah hidup kamu dan kebahagiaan kamu hanya berdasarkan keinginan orang lain? Kapan kamu akan menjadi bahagia bahkan ketika kamu membuat kesalahan, kapan kamu akan memaafkan diri kamu ketika orang membenci kamu."

"Sejujurnya saya gak pernah terlalu marah pada orang yang tak suka dengan sikap saya, saya justru marah pada diri saya karena membiarkan saya membuat kesalahan." Itu jawaban saya buat Randu.

"Tapi kesalahan adalah guru yang paling baik," jawab Randu. "Kesalahan adalah pertanda bahwa kamu seorang manusia yang utuh. Belajarlah menerima bahwa kamu gak sempurna. Mungkin hal itu tak akan terlalu menyakitkan."

"Tapi saya lelah. Lelah dengan penilaian orang. Saya ingin membuat kesalahan tanpa takut membuat orang lain marah," kata saya ngotot.

Randu tertawa kecil. "Ini bukan karena kamu gak suka dikritik, kan?"

"Mereka itu sering salah paham. Sebenarnya saya mau dikritik kalau orang lain itu mau saya kritik. Kalau dia aja gak suka dengan kritikan dari saya. Kenapa dia harus bersikap keras dengan mengkritik saya," kata saya sedikit cemberut.

Randu terdiam. Saya yang sadar kalau saya bernada tinggi, lalu kembali bertanya dengan nada suara diturunkan, "Apa saya terlalu perhitungan kalau berharap diterima meski kesalahan saya fatal. Meski orang itu punya trauma sehingga bersikap keras sama saya? Saya juga trauma, ndu. Tapi saya ingin belajar menerima orang apa adanya. Kenapa mereka sepertinya selalu berharap saya selalu baik. Tak bolehkah saya menjadi diri sendiri yang tak sempurna? Saya ingin merasakan diterima ketika saya tak sempurna, ndu. Sejak kecil sampai sekarang, orang yang saya sayangi selalu menuntut lebih dari saya. Saya tahu maksud mereka baik. Mungkin mereka melihat sisi baik dalam diri saya. Makanya mereka berharap saya berubah. Tapi saya benar-benar ingin melakukan sesuatu tanpa dinilai. Saya ingin dimaklumi."

Pemuda yang sebenarnya sibuk tetapi mau meluangkan waktunya untuk saya itu hanya menggeleng2x sambil berkata, "Mungkin mereka sudah memaklumimu, nduk. Apa mungkin kamu melewati batas kesabaran mereka?? Kenapa harus ngotot, nduk. Kalau ada badai ya berlindunglah, kalau ada kebakaran ya menyingkirlah. Jangan diam di satu tempat."

"Maksudnya?"

"Kamu harus belajar untuk menguasai perasaan. Berhentilah menjadi emosional. Langit tak selamanya runtuh. Berhentilah mengkhawatirkan banyak hal hanya karena tak sesuai denganmu. Mungkin hanya sementara saja. Mungkin esok lebih baik."

Saya terdiam sambil berpikir sejenak lalu membalas, "Maksudnya? Bagaimana kalau mungkin yang kamu maksud itu tak akan pernah tiba. Apa saya harus diam di satu tempat??"

Sahabat saya tersenyum sambil menjawab dengan suaranya yang menenangkan, "Ambillah nafas manakala sesak menderamu. Ambillah jeda ketika beban terasa menghimpitmu. Berusahalah tapi jangan menggenggam sesuatu terlalu erat. Ketika ada sesuatu yang tak sesuai, lepaskan hal itu, tunggu dan lihatlah, pasti akan ada hal baik yang terjadi."

Itulah Randu. Selalu punya jawaban untuk banyak hal. Tapi sahabat, sepertinya kali ini memang sudah sampai klimaksnya. Untuk saat ini saya belum bisa menentukan arah perjalanan saya. Karena kini saya kembali ke titik nol. Saya tahu bahwa membuat seseorang bahagia memang tidak mudah tapi kadang menjadi diri sendiri justru lebih sulit. Seperti kata Five for Fighting, "It's Not Easy to Be Me"


Selasa, 15 November 2011

Analog Photography Is A Gift From God

  
"To me, photography is an art of observation. It's about finding something interesting in an ordinary place. I've found it has little to do with the things you see and everything to do with the way you see them." - Elliot Erwitt

Sejak saya mulai belajar fotografi analog, saya jadi semakin menghargai proses dan mengenal banyak orang. Tentu saja ambisi untuk membidik gambar yang bagus juga menjadi prioritas saya. Tapi dengan analog, saya belajar menunggu, menikmati indahnya frame demi frame yang sudah saya bidik tanpa tahu bagaimana hasilnya. Ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika mata terpicing sebelah sambil melihat view finder yang terkadang terbatas ruangnya.

Tapi saya jatuh cinta pada proses itu. Karena saya jadi semakin bisa melihat dengan perspektif yang berbeda. Belajar untuk tidak menilai atau menghakimi tapi memahami. Tersenyum dari hati diantara pahitnya peristiwa. Seperti yang saya lakukan di hari Selasa.

Judul kisahnya adalah "Episode Ban Bocor di Hari Selasa". Mungkin ini sedikit tak ada hubungannya dengan fotografi analog yang sedang saya puja itu. Tapi ada alasan spesial kenapa saya menulis ini. Karena untuk kedua kalinya saya mengalami episode ban bocor dengan orang yang sama di saat suasana hati saya sama-sama sedang galau (Remember, Miss Galau is my new nickname, but I am proud of it)..

Diantara sisa-sisa gerimis semalam, saya berjalan menemani seseorang yang mendorong motornya sambil menyandang ransel berisi kamera. Saya berada di belakang  sambil membatin, "Ini hari apa? Selasa bukan? Rasanya seperti Dejavu."

Yap, pekan lalu pun saya bersama seseorang ini juga melakukan hal yang sama. Dia mendorong motor dan saya membawakan helm. Dan sebenarnya, saya sedikit berharap, ini bisa menjadi ritual di hari Selasa, meski bukan bersamanya (Bukan bagian ban bocornya sih..). Tujuannya cuma satu. Supaya saya punya waktu buat menikmati malam dengan JEDA.

Dan tahukah anda betapa menariknya duduk di tempat tukang tambal ban bersama "Seseorang" siapapun itu sambil berbincang tentang banyak hal? Rasanya seperti minum teh hangat sambil menikmati hujan dan mendengarkan lagu John Mayer "The Heart of Life" or melodinya "The Street of Kotagede" (Ah saya kangen sama Jogja).

Peristiwa ban bocor itu rasanya seperti mendapat hadiah dari Tuhan yakni sebuah "JEDA" ketika saya merasa lelah untuk berjuang. Alhamdulillah saya diingatkan untuk bersyukur. Bahwa saya diberi banyak peristiwa agar saya bisa belajar dari semua hal itu. Seperti kata Syahrini, "Alhamdulillah ya, sesuatu banget."

Met makan siang..^_^

Senin, 31 Oktober 2011

Sepiring Brownies dan Teh Hangat di Pagi Hari..Hmmmm


Hmm.. apa sih artinya keindahan?Apa sih artinya kedamaian??Apa sih artinya kesuksesan dan kebahagiaan??

Mungkin sampai detik ini kita masih mencari artinya. Mencarinya disela-sela pekerjaan yang kadang bikin hectic, mencarinya di sekitar lingkungan kita, mencarinya diantara orang-orang yang paling kita sayang hingga tak urung proses mencari itu membuat kita benar-benar tertekan dan nyaris jadi seseorang yang posesif.

Dalam hidup kita terus mencarinya, merasa buntu, hingga sampailah kita di persimpangan dan berkata, "Perlukah Itu"? Benarkah jika kita tidak menemukan kebahagiaan, kesuksesan, kedamaian, dan keindahan, kita hanya akan menjadi seseorang yang bernyawa tapi tak berjiwa??"

Mungkin analisis ini terkesan sinis. Tapi saya katakan TIDAK!!!Saya tidak menghakimi siapapun karena saya hanya ingin merenungi apa yang sudah saya lakukan. Karena saya sendiri juga tenggelam dalam proses pencarian itu sendiri. Bahkan proses itu membuat saya lupa untuk apa saya mencari semua itu.

Time to move forward

Ya..saya justru melupakan bahwa dalam mencari kadang kita hanya MELIHAT tapi tidak MERASAKAN. Padahal apa yang tampak di depan mata belum tentu yang sebenarnya. Kini saya ingin berhenti sejenak dari semua itu. Sebuah proses yang melelahkan dan kadang tak bisa saya hindari.Hmm...so stressfull...

Tapi tak apa..saya toh tak diburu waktu. Ketimbang berlari akan lebih baik berjalan dengan nafas tenang. Berusaha menjadi nyaman. Berusaha lebih tenang..Berusaha lebih hangat. Bagaikan sepiring brownies dan teh hangat di pagi hari. Begitu damai..begitu menenangkan...Hmmmmmmmmm..

Semoga hari ini saya bisa lebih baik. Tidak hanya MELIHAT tapi juga MERASAKAN. Karena semua yang saya cari, sudah ada di sekitar saya. Yang perlu saya lakukan adalah menjadi lebih peka, menjadi lebih peduli, berhenti mencari dan semua itu akan hadir dengan sendirinya. Selamat Menikmati Hidup.....

Tentang Hujan



Kalau ingat hujan, saya selalu ingin duduk mendekap lutut dan memandang keindahan dari balik jendela


Kalau ingat hujan, saya selalu ingin membuat satu cangkir susu coklat panas dan menghirupnya bersama hawa sejuk kala hujan membasahi tanah

Kalau ingat hujan, saya selalu ingin berlari keluar dari gua saya dan bermain dengan air yang turun satu demi satu dari langit

Itulah pandangan saya tentang hujan. Dulu buat saya hujan berarti dingin dan basah. Bikin kacamata saya berembun, kaki kepleset, baju disemprot sama mobil yang lewat comberan.

Dulu ketika saya begitu egois dan keras kepala (sekarang benernya juga masih), saya pernah mendengar kalau banyak kisah yang terjadi kala hujan tiba. Banyak keindahan hidup dilahirkan kala hujan tiba.

Bagaimana bisa begitu?Saya sendiri juga awalnya tak percaya. Omong kosong ah kalau dengan hujan bisa membuat orang senang. Produksi sebuah program saja bisa berhenti gara-gara hujan dan akhirnya menyebabkan biaya meningkat. Belum lagi peralatan yang rentan rusak jika terkena air. Buat ibu rumah tangga, hujan bisa jadi tambahan beban kerjaan karena pakaian tak kunjung kering. Apalagi kalau sampai banjir besar yang sanggup menewaskan ratusan orang. So apa yang menarik dan indah dari si hujan yang turunnya suka tidak terduga??

Tapi kenyataannya. Hujan memang indah. Ada kerumitan tapi sekaligus juga kesederhanaan. Ada sisi menyusahkan namun memberikan keindahan. Hujan yang menjadi hal yang menyebalkan bagi saya dan orang lain mungkin justru menjadi sesuatu yang penting.Sesuatu yang ditunggu-tunggu buat orang lain. Sesuatu yang berharga. Di belahan bumi lain yang kadang bisa begitu panasnya,hujan memberikan kesejukan, memberikan keindahan dan kehidupan baru bagi tumbuhan dan itu berarti harapan bagi sang empunya tumbuhan.

Itulah kenapa saya jadi jatuh cinta pada hujan. Hujan memberi waktu pada kita untuk berhenti sejenak. Ibarat sedang duduk dan minum teh atau susu coklat panas sambil menghabiskan biskuit setelah mungkin seharian atau berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun menjadi pejuang dalam kehidupan yang nggak mudah ini.

Hujan buat saya adalah tiket untuk beristirahat. Hujan buat saya adalah sebuah pelajaran yang membuka mata kita bahwa ada sesuatu yang begitu spesial dibalik sebuah kerumitan. Hujan buat saya adalah sebuah pertanda bahwa walaupun berusaha sungguh-sungguh tetap bukan kita yang menentukan semuanya.Hujan berarti sebuah keikhlasan.

Selamat menikmati hujan bersama hangatnya teh manis, pahitnya kopi, manisnya susu, dan gurihnya camilan...

Kamis, 13 Oktober 2011

Cinta dan Komitmen Itu Bukan Indomie


Diantara waktu colongan saat saya sedang menerjemahkan berita "Katy Perry mau luncurkan parfum baru", terpikirlah saya untuk menulis. Setelah sebelumnya postingan saya mungkin mellow super galau nggak jelas, tibalah saat bagi saya untuk menjadi (sedikit) DEWASA. Karena, saya sadar bahwa saya butuh ini, mengungkapkan kejujuran saya yang mungkin belum tentu bisa dicerna sebagian orang.

Dalam hidup yang terpenting adalah belajar dari pengalaman orang lain. Pesannya adalah tak ada sesuatu di dunia ini yang seinstan semangkuk Indomie goreng favorit saya.

Ini adalah sebuah cerita pertemuan saya dengan seorang pria sebut saja namanya Ari (bukan nama sebenarnya, atau memang iya??). Singkat cerita, si Ari ini baru saja memutuskan hubungan dengan kekasihnya karena dia menganggap wanitanya itu masih seperti anak kecil yang pola pikirnya gak lebih baik dari orang seumuran dia. Si Ari mengaku kalau dia marah-marah karena si wanita mencurigainya (ini menurut versi Ari) dengan pertanyaan, "Wah komen status siapa tuh? Jadi jealous".

Si Ari yang kesal menjawab:
"Itu temen gue lebih penting dari lo. Dia ada waktu gue susah, gak kayak lo. Baru gue ceritain kesusahan gue langsung menghina. Gue malu punya bokin yang sifatnya lebih kayak anak kecil daripada cewek di bawah gue."

Setelah itu, langsung saja si wanita diputusin Ari dengan tanpa babibu. Entah apa yang terjadi dengan si wanita, yang jelas Ari membahas hal ini dengan saya. Mendengar Ari yang super emosi, dalam percakapan kami selama beberapa menit itu, saya bertanya padanya.

"Ari, kenapa kamu nggak menanyakan apa alasannya si gadis menjadi anak kecil??Kenapa kamu nggak bisa mencintai seseorang apa adanya? Belajar menerima kekurangan dia, mungkin?" demikian tanya saya sok bijak.

Ari pun menjawab, "Saya juga punya kekurangan, sekarang saya miskin karena itu saya sekarang bekerja keras nyari uang. Kalau kekurangan itu bisa diubah, kenapa saya harus menerima kekurangan dia?"

Hmm wait..wait...saya jadi bingung juga sama si Ari, pasalnya apa bisa ya kekurangan keuangan disamakan dengan kelemahan diri? Karena itu saya pengen bilang bahwa komitmen dan cinta itu bukan INDOMIE yang bikinnya cuma butuh waktu 3 menit dan juga bukan baju yang kalau dalam satu bulan bosen bisa kita ganti dengan yang baru. Semua butuh waktu. Bahkan untuk mengubah diri kita sendiri saja butuh waktu. Karena bagi saya, menjadi diri sendiri itu seperti membuat mahakarya. Butuh kesabaran, pemahaman dan kerja keras ekstra.

Seperti kata Lady GaGa:
"People won't always love your work and they won't always love the causes that you fight for, but at the end of the day, I think I could be OK with it all if I knew deep down in my spirit that I was always brave and I was always doing the hardest thing."

Orang tak selalu mencintai pekerjaan kita atau tak selalu sepaham dengan alasan kita memperjuangkan sesuatu, tapi pada akhirnya, kurasa aku akan baik-baik saja dengan pikiran bahwa di lubuk hatiku yang paling dalam, aku akan selalu menjadi pemberani dan melakukan sesuatu yang paling sulit.

Singkat kata, terjemahan dari sahabat saya, Wina Panggabean: "Be brave whatever it takes for being ourselves."

Yap berani menjadi diri sendiri karena kita asli dan tak tergantikan. Saya juga belum sempurna makanya saya nggak menghakimi keputusan Ari. Saya justru berterima kasih bisa mengenal Ari. Tapi apakah masih ada Ari-Ari lain yang salah kaprah mendefinisikan cinta dan komitmen? Apakah semua orang harus sama? Apakah semua orang bisa berubah dalam sekejap mata? Dan apakah menjadi diri sendiri itu berarti harus selalu menyenangkan orang lain?

Itu tanya dalam benak saya? Bagaimana dengan anda?

Selamat sore dan jalani semua dengan senyuman karena anda tidak sendiri..^_^

Rabu, 14 September 2011

Thank You Note


Catatan malam ini:
Mandi air hangat..check
Makan malam...check
Maen sama ponakan..check
Nulis Laporan ... check
Kentut .... check (hedeh)
Punya rencana untuk bikin tulisan ..check


Ok..tarik nafas dulu sebelum mulai. Lari di tempat 10 kali dan ucap Bismillah...Let's the story begins...^_^

Akhirnya ketemu lagi dengan saya, sang penggosip dunia maya. Saya, penulis yang tak pernah puas sama hidupnya dan kadang melanggar pantangannya sendiri a.k.a mengeluh dan mengaduh. Kalau saya mulai bandel, mulai lemah tak berdaya (ahai lebai punya), mulai melow melow gak jelas. Maka ingatlah saya dengan kata-kata W.S Rendra (hobi lain saya adalah koleksi kutipan dari orang yang gak terkenal sampai tokoh dunia).

Sang pujangga yang sudah tiada pada 8 Agustus 2009 itu pernah berkata:

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.
Hidup adalah untuk mengolah hidup.
Bekerja membalik tanah.
Memasuki rahasia langit dan samodra.
Serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas.
Karena tugas adalah tugas.
Bukan demi sorga atau neraka.
Tapi demi kehormatan manusia.

Karena sesungguhnyalah kita bukan debu.
Meski kita sudah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian.
Dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang.
Ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya

Dan pagi ini (Rabu 14 September) saya melihat sebuah pemandangan nan miris dalam perjalanan menuju kantor. Ketika itu, seorang polisi dan seorang pria tak berseragam mencoba menyadarkan seorang pria yang kemungkinan adalah gelandangan. Pak polisi yang biasanya suka saya sinisin tampak telaten menyeka sang pria dengan kain basah.

Saya tak tahu kenapa dengan pria itu. Yang jelas saya bersimpati. Melihat peristiwa itu, saya sedih karena selama ini saya masih saja kurang bersyukur pada kehidupan yang saya punya. Kurang menjaga segala hal yang dititipkan ke saya. Terlalu semena-mena sebagai manusia. Mungkin kalau di data jumlah kesalahan dan kebenaran saya tak seberapa.

Tapi tulisan ini bukan untuk meratapi segala hal yang sudah, belum atau akan saya kerjakan. Ini adalah ucapan terima kasih pada kehidupan, Tuhan, keluarga, orang terdekat dan terjauh yang pernah singgah, menghuni bahkan sudah berlalu dalam hidup saya. Saya bersyukur setiap saat selalu diingatkan untuk berterima kasih. Tentu saja ini bukan untuk mencari perhatian atau mendapat balasan. Saya hanya ingin bilang bahwa saya, anda, kita, kamu, kau, dan siapapun nun jauh di sana, sangat berharga bagi saya. Sekali lagi terima kasih..

Special Thanks to:
-Allah SWT atas berkah dan karunia-Nya
-Keluarga (ayah, ibu, dua orang kakak perempuan, dua orang kakak ipar dan tiga ponakan) yang selalu menerima saya apa adanya.
-Teman-teman di blog yang membuat saya semangat menulis
-Ratri Kencono Wungu dan Hapri Novianti yang memotivasi saya untuk menjadi lebih
-Febrina dan Roky yang baru dikaruniai putra pertama
-Sahabat-sahabat saya di kantor (Tasha "Ling-Ling" Dinar atas acara gosipnya, Wina, lia dan rizki atas sesi curhatnya, Eka serta Apri atas kerjasamanya dan Wike dita Herlinda atas kesediaannya menjadi model foto dan menyadari bahwa saya potensial..^_^, mbak yuli atas kesabarannya dan semua orang yang udah membantu saya dalam banyak hal saat bekerja)
-Situs www.wowkeren.com, ruang kerja yang membuat saya betah menulis, nggosip dan menemukan semua info baru
-Mas-mas fotografer yang selalu setia menjawab pertanyaan saya (Hendra Prabowo, Yossy, Rahmat Baskara, Vladimir Sabeni, Gammal Januar, Unggul Wisesa, dll)
-Angga Caesar atas acara nonton-nontonnya yang berbobot
-Seseorang di Bintaro yang sudah memberi saya satu malam indah yang gak akan saya alami lagi
-Mas Juli atas kesediaannya mendengarkan saya
-Agie Fadli, seorang mantan yang membuat saya belajar merelakan
-Leoni, Pupu, Azwar, Heli, Heru, Anto, Pak Dom, Mas Jokovic dan semua kenalan saya semasa masih kuliah di UGM--makasih banyak atas segala hal yang sudah membuat saya belajar dalam hidup
-Cinta Pertama saya, semoga saya bisa ketemu lagi dengan pria bernama Tri itu
-Guru SD,SMP,SMU dan semua dosen yang telah memberi saya ilmu
-Teman-teman di MMTC dan di Bangka TV, terima kasih dan terima kasih atas segalanya
-Semua orang yang belum, sudah dan akan saya kenal..senang bisa bertemu anda semua

Kalaupun saya nulis ini bukan karena saya mau ujian skripsi..heheheh..ini bagian dari peringatan agar saya selalu kembali lagi ke tempat dimana saya bermula. Tempat dimana saya bisa menjadi diri sendiri. Terima kasih atas hari ini, kemarin, esok dan seterusnya. Moga saya selalu punya kesempatan untuk berkarya. I'm writer and amateur photographer..That's what i'am..^_^..Sleep tight

Minggu, 11 September 2011

Compromise and Sacrifice


Yipeee..finally my headache is disappear..so I could continue my plan to write…hahahaha..ngemeng apa sih saya inih….sok keminggris. Oke deh langsung aja. Sudah dari beberapa hari yang lalu saya pengen nulis tentang relationship. Secara (jiahh bahasa gaul yang sudah gak up to date) saya masih bermasalah dengan kata yang satu itu. Jadi saya pikir gak ada salahnya untuk berbagi dengan semua blogger (yang mungkin ngebaca) tulisan sayah. Tapi satu hal yang wajib saya peringatkan ini bukan curhat melainkan sebuah transkrip percakapan dengan sang Diva a.k.a Material Girl Madonna.

Anda berpikir saya yang wawancara Madonna??Unfortunately, I’ll disappoint you..coz not me but sebuah media Inggris yang wawancarain Madonna. Saya ini hanya sekedar content writer atau lebih bisa dibilang penggosip dunia maya yang menerjemahkan kembali wawancara Daily Mail dengan Madonna, si Diva berusia 53 tahun..:P

Dalam wawancara, si kekasih Brahim Zaibat ini bilang kalau semua orang bisa ngedapetin tiga hal penting dalam hidup which is; karir, keluarga dan cinta. Ibu dari Lourdes dan Rocco ini pun berbagi tips buat kita tentang pendapatnya soal hubungan.

“Semakin tua usiaku, semakin aku paham bagaimana suatu hubungan yang alami bisa sukses,” ujar Madonna. “Aku semakin sadar bahwa suatu hubungan butuh Kompromi dan Pengorbanan dan seperti itulah adanya. Kecuali kamu ingin sendirian seumur hidupmu, maka kamu harus sadar akan itu.”

See, kompromi dan pengorbanan adalah kuncinya yang tentu saja masih saya coba lakukan. Tapi bahkan seorang Madonna sendiri sadar kalau “She couldn’t have everything”. Ada harga mahal yang harus dia bayar ketika bisa mendapatkan tiga hal itu. Dibalik kesuksesannya, Madonna ternyata susah tidur nyenyak di malam hari. Pun begitu, Madonna mengaku kalau dia tak bisa hidup tanpa Cinta, Karir dan anak-anaknya.

“Aku tak bisa membayangkan hidup tanpa memiliki anak dan cinta,” lanjut penyanyi yang telah menjual 270 juta album itu. “Ataupun membayangkan hidup tanpa menjadi kreatif dan tak bisa mengerjakan yang kulakukan sekarang.”

Tentu saja semua butuh kerja keras, usaha dan yang utama adalah doa. InsyaAllah selama ada niat, daya dan upaya maka semua akan indah pada waktunya. Sesuatu banget, kan. ^_^. Satu lagi pesan dari Madonna buat semua penggemarnya.

“Kamu tak bisa selalu mendapat apa yang kamu inginkan,” ujar Madonna. "Tapi kompromi akan terbayar suatu saat nanti. Belajar mengikhlaskan, tunggu dan lihatlah apa yang terjadi kemudian. (You go girl) Intinya adalah belajar untuk memberi dan menerima.”

Met sore buat semuanya. Semoga tulisan saya bisa mengilhami agar semua orang bisa menjadi lebih baik

Senin, 08 Agustus 2011

Kisah dari Masa Lalu


(sebuah renungan…ketika sesuatu tak ada yang abadi)

Bulan baru sudah beranjak. Pagi yang indah telah menyingsing bersama matahari yang pancarkan energi baru tapi kenapa kita masih terkungkung dalam asa kosong yang begitu panjang? Terkungkung dalam kemarahan dan rasa terluka. Kenapa kita tak mampu tersenyum dalam kesejukan dan indahnya pemandangan Bangka yang elok dan rupawan yang Tuhan anugrahkan pada kita?????????? Teman..sahabat..dan abang-abangku tersayang..bagaimanapun kita bagian dari dunia yang hanya Tuhan yang tahu akan menuju kemana..kadang kita takut, kadang kita merasa kuat, kadang kita merasa jenuh, kadang kita terbelenggu dengan sesuatu yang mengikat..segala hal yang kita alami dan rasakan memang begitulah adanya….ketakutan memang sesuatu yang lumrah dialami manusia manakala kita tak mampu ataupun diremehkan saat kita memperjuangkan mimpi-mimpi kita..memperjuangkan segala hal yang kita punya yang buat kita itu berharga…tapi itulah hidup..membayangkan bahwa manusia yang diciptakan Tuhan tak memiliki perasaan itu??

Seperti kita membayangkan manusia yang bukan manusia… Sahabat, Tuhan menciptakan banyak hal pada kita bagaikan dalam cerita kehidupan yang tak pernah usai dibaca..hanya untuk satu tujuan…bahwa kita harus mensyukuri bahwa Tuhan masih sayang dengan kita, hambanya yang tak pernah lepas dari kekurangan dan dosa..Tuhan ingin mendewasakan kita..membuat kita siap dalam segala hal..membuat kita belajar dalam begitu banyak kungkungan masalah dan kebahagiaan hidup yang selalu datang dan pergi..mengajarkan pada kita tak ada sesuatu yang abadi..mengajarkan pada kita untuk selalu bersyukur bahwa meski badai menerpa..meski luka membalur disekujur tubuh dan hati kita…

Tuhan masih menganugerahkan kehidupan dan kesempatan bagi kita untuk menciptakan hari yang lebih baik…maka tersenyumlah sahabat..bahagialah dengan segala hal yang kita punya..karena kita mampu menjalaninya..karena dengan banyak hal yang kadang membuat hati kita terluka hingga mengharu biru..kita menjadi kaya dengan cerita yang dikenang oleh anak cucu kita kelak..agar mereka juga belajar dari kita, sang pemimpi dan pejuang yang tak pernah lelah berjalan untuk mengejar dan memperjuangkan mimpi-mimpinya…. Bersabarlah dan berdoalah sahabat..karena disekitar kita.masih banyak orang yang peduli dan membutuhkan kita…jangan pernah lelah dengan mimpi-mimpimu yang begitu indah..karena hanya kitalah yang mampu tuk jalani itu semua..janganlah lari meski kau sudah terlalu lelah dan terluka untuk meneruskan perjalanan…beristirahatlah sejenak dan mengatur napas..berikan kesempatan bagi orang lain untuk membantumu hingga kau siap melanjutkan perjalanan..yakinlah..di ujung jalan yang mungkin tak berujung itu, ada sebuah akhir yang indah sebagai kenangan bagi perjuangan mimpi-mimpimu....